Rabu, 05 April 2017

bab 2 sekripsi Analisis Alokasi Biaya Produk Gabungan 1


BAB II
LANDASAN TEORI
                                                                                           
A.      Pengertian Biaya

Terdapat berbagai macam pengertian atau defenisi biaya, yang masing masing berbeda sehingga sering terjadi perbedaan persepsi, maka dari itu tidak mudah untuk mendefenisikan istilah biaya tanpa menimbulkan keragu-raguan akan kebenaran maksudnya.
          Menurut R A Supriyono :
“Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan”.

Menurut Mulyadi :
“Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan terjadi untuk tujuan tertentu”.

               
Dari pendapat diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan biaya adalah suatu pengorbanan yang dapat diukur dalam satuan moneter, baik yang telah terjadi ataupun yang akan terjadi, untuk mencapai tujuan tertentu dan dibebankan pada produk atau jasa perusahaan.





Seringkali orang menganggap istilah biaya sama dengan beban, walau pada dasarnya adalah berbeda.
Menurut Charles T Horngren :                              
“Biaya digunakan untuk menunjukkan suatu harta (biaya barang persediaan) dan untuk menunjukkan suatu pengeluaran (biaya atau harga pokok penjualan). Sedangkan beban menunjukkan semua biaya yang dikurangi dari penerimaan atau pendapatan dalam suatu periode tertentu”.

Menurut Don R Hansen dan Maryanne Mowen :
“Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau dimasa yang akan datang bagi organisasi. Sedangkan beban adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan kadaluarsa. Biaya yang kadaluarsa ini disebut beban”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya masih dapat memberikan manfaat dimasa yang akan datang dan merupakan biaya yang belum digunakan (unexpired cost). Sedangkan beban adalah biaya yang telah digunakan (expired cost) dan sudah tidak dapat memberikan manfaat lagi di masa yang akan datang.

B.   Klasifikasi Biaya

Pengelompokkan biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuannya.
Pengelompokkan didasarkan pada :
1.        Hubungan Antara Biaya dengan Produksi
Dalam perusahaan pabrikasi, biaya operasi total terdiri dari :
a.    Biaya pabrikasi atau sering juga disebut biaya produksi atau biaya pabrik (factory cost) adalah jumlah dari tiga unsur biaya yaitu biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan dalam proses produksi.
§  Bahan langsung (direct materials) adalah semua bahan yang membentuk bagian integral dari barang jadi dan dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi biaya produk. Pertimbangan utama dalam mengelompokkan bahan kedalam bahan langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi.
§  Tenaga kerja langsung (direct labours) adalah karyawan yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi.
§  Overhead pabrik (factory overhead) didefenisikan sebagai biaya dari bahan tidak langsung, pekerja langsung, pekerja tidak langsung dan semua biaya pabrikasi lainnya yang tidak dapat dibebankan langsung pada produk tertentu.

b.    Biaya non produksi / Beban komersial, dibagi kedalam 3  kelompok besar :
§  Beban pemasaran (distribusi dan penjualan)
     Beban pemasaran dimulai dari saat biaya pabrik berakhir yaitu pada saat proses pabrikasi diselesikan dan barang-barang sudah dalam kondisi siap untuk dijual. Beban ini meliputi beban penjualan dan beban pengiriman.
§  Beban Administrasi
     Beban administarsi meliputi beban yang dikeluarkan dalam mengatur dan mengendalikan organisasi.
§  Biaya Keuangan
     Adalah biaya yang berkaitan dengan fungsi penyediaan dana misalnya : biaya administrasi dan biaya bunga.
2.    Hubungan Antara Biaya dengan Volume Produksi
Beberapa jenis biaya bervariasi langsung dengan perubahan volume produksi, sedangkan biaya lainnya relatif tidak berubah (fixed), terdiri dari :
a.    Biaya Variabel
Dengan ciri-ciri yaitu :
§  Perubahan jumlah total dalam proposi yang sama dengan perubahan volume.
§  Biaya per unit relatif konstan meskipun volume berubah dalam rentang yang relevan.
§  Dapat dibebankan kepada departemen operasi dengan cukup mudah dan tepat.
§  Dapat dikendalikan oleh seorang penyelia operasi. Biaya yang mempunyai karakteristik ini umumnya meliputi bahan langsung dan pekerja langsung.

b.    Biaya Tetap
Dengan ciri-ciri yaitu :
§  Jumlah keseluruhanyang tetap dalam rentang keluaran yang relevan.
§  Penurunan biaya perunit bila volume bertambah dalam rentang yang relevan.
§  Dapat dibebankan kepada departemen-departemen berdasarkan keputusan manajemen atau menurut metode alokasi biaya.
§  Tanggung jawab pengendalian lebih banyak dipikul oleh manajemen eksekutif daripada oleh penyelia operasi.
   
c.    Biaya Semi Variabel
Biaya ini mencakup suatu jumlah yang sebagian tetap dalam rentang keluaran yang relevan dan bagian lainnya bervariasi sebanding dengan perubahan jumlah keluaran.
3.    Hubungan Antara Biaya dengan Departemen Pabrikasi
Yang termasuk biaya dalam hubungannya dengan departemen pabrikasi adalah :
a.    Departemen Produksi dan Jasa
Dalam departemen produksi, operasi secara manual ataupun dengan mesin, seperti membentuk dan merakit dilaksanakan langsung terhadap produk atau bagian-bagiannya. Dalam departemen jasa meskipun tidak terlibat langsung dalam proses produksi namun biayanya merupakan bagian dari total overhead pabrik dan karena itu harus dimasukkan dalam biaya produk.
b.    Beban Langsung dan Tidak Langsung Departemen
Jika beban berasal dari suatu departemen dapat segera diidentifikasi terhadap departemen tersebut, maka beban itu disebut sebagai beban departemen langsung. Sedangkan jika beban dipikul bersama oleh beberapa departemen yang mengambil manfaat dari terjadinya beban tersebut maka beban tersebut dinamakan biaya tidak langsung.
c.    Biaya Bersama dan Biaya Gabungan
Biaya bersama yaitu biaya yang berasal dari penggunaan fasilitas atau jasa oleh dua operasi atau lebih. Biaya bersama pada umumnya timbul dalam organisasi yang mempunyai banyak departemen. Sedangkan biaya gabungan yaitu biaya yang terjadi bila proses produksi pasti akan menghasilkan lebih dari satu jenis


produk. Biaya gabungan hanya dapat dialokasikan pada produk gabungan melalui pertimbangan praktis.

4.    Hubungan Antara Biaya dengan Periode Akuntansi
Yang termasuk biaya dalam hubungannya dengan periode akuntansi yaitu :
a.    Belanja barang modal
Belanja barang modal juga disebut sebagai pengeluaran modal yang dimaksudkan untuk menghasilkan manfaat dalam periode-periode mendatang dan dicatat sebagai aktiva. Namun pada akhirnya belanja barang modal yang dianggap sebagai aktiva tadi akan masuk dalam arus biaya bila digunakan atau habis masa manfaatnya.
b.    Pengeluaran pendapatan
Pengeluaran pendapatan memberikan manfaat pada periode berjalan dan dicatat sebagai beban.

C.      HARGA POKOK PRODUKSI

Dalam hubungannya dengan biaya-biaya untuk memproduksi suatu barang atau jasa, biaya yang telah dikorbankan untuk memproduksi barang atau jasa disebut harga pokok produksi.
Menurut R A Supriyono :
“Harga perolehan atau harga pokok adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam bentuk kas yang dibayarkan, nilai aktiva lainnya yang diserahkan / dikorbankan nilai jasa yang diserahkan, utang yang timbul, tambahan modal dalam rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan, baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang akan datang (harga perolehan yang akan terjadi)”.


Aktiva atau jasa yang diserahkan dalam proses produksi (yang meliputi bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik) membentuk harga pokok produksi.
Menurut Charles T Horngren dan George Foster :
“Harga pokok produksi adalah biaya yang dialokasikan ketersediaan pada saat terjadi. Pada gilirannya, biaya yang dimasukkan dalam persediaan ini menjadi beban sebagai harga pokok penjualan hanya jika jumlah unit yang terdapat dalam persediaan terjual dan ini bisa terjadi dalam suatu periode setelah periode memproduksinya”.

Ada tiga unsur utama menurut Charles T Horngren dan George Foster dalam biaya produk yang dihasilkan :
1.    Biaya Bahan Langsung
Biaya pembelian (perolehan) semua bahan yang diidentifikasikan sebagai bagian dari barang jadi dapat ditelusuri ke barang jadi dengan cara yang ekonomis. Bahan langsung sering tidak mencakup unsur-unsur yang tidak signifikan tampaknya, tidak sebanding dengan nilai atau manfaat untuk mendapatkan harga pokok produk yang lebih akurat. Unsur-unsur seperti itu disebut perlengkapan atau bahan tidak langsung dan digolongkan sebagai bagian biaya produksi tidak langsung.
2.    Biaya Tenaga Kerja Langsung
Upah semua tenaga kerja dapat diidentifikasi dengan cara yang mungkin secara ekonomis terhadap produk barang jadi contohnya adalah tenaga operator mesin. Tenaga kerja tidak langsung mencakup semua upah tenaga kerja pabrik selain tenaga kerja langsung. Inilah biaya yang tidak mungkin atau tidak praktis untuk ditelusuri kepada produk.
  
3.    Biaya Produk Tidak Langsung
Semua biaya yang bukan bahan langsung dan tenaga kerja langsung yang berkaitan dengan proses produksi. Istilah lainnya untuk kategori ini adalah biaya overhead pabrikasi dan beban pabrikasi.
Jadi dari defenisi diatas dalam perusahaan manufaktur, biaya suatu produk biasanya terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang disebut biaya produksi atau biaya pabrikasi. Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

D.      JOINT PRODUCT DAN JOINT COST

1.        Pengertian Joint Product
Hubungan antara produk yang satu dengan produk yang lain dalam perusahaan (pabrik) yang menghasilkan beberapa macam produk, dapat digolongkan dalam :
a.    Produk Common (Commont Product)
Yaitu  beberapa macam produk yang dihasilkan bersama-sama dengan menggunakan fasilitas yang sama akan tetapi asal dari bahan baku dan tenaga kerja langsung yang dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk.
b.    Produk Bersama (Joint Product)
Yaitu beberapa macam produk yang dihasilkan bersama-sama dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukan tersebut tidak dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu.

c.    Co-Product
Yaitu beberapa macam produk yang dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak dari proses pengolahan yang sama atau tidak dari bahan baku yang sama.
d.   Produk Utama
Yaitu produk yang dihasilkan merupakan tujuan pokok operasi perusahaan dan umumnya kuantitas dan nilainya relatif lebih besar. Sedangkan produk sampingnya adalah produk yang bukan tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.

Menurut Matz, Usry dan Hammer produk gabungan (joint product) didefenisikan sebagai berikut :
“Produk gabungan diproduksi secara serentak melalui proses bersama (common process) atau rangkaian proses, dimana masing-masing produknya memiliki nilai lebih tinggi daripada nominal dalam bentuk barang jadi”.

Dalam defenisi ini terdapat penekanan pada pengertian bahwa dalam proses pabrikasi itu dihasilkan produk-produk dalam suatu perbandingan kuantitatif tertentu. Kenaikan dalam hasil produk tertentu akan mengakibatkan kenaikan dalam jumlah produk lainnya, demikian pula sebaliknya, namun tidak selalu harus ada dalam proporsi yang sama.

2.        Pengertian Joint Cost
Bagi banyak perusahaan industri, kalkulasi biaya untuk produk sampingan dan produk gabungan merupakan masalah yang sulit dan sering berkembang menjadi rumit.
Menurut Matz, Usry dan Hammer, Biaya Gabungan (joint cost) didefenisikan sebagai berikut :
Biaya yang timbul karena pemrosesan atau pabrikasi beberapa jenis barang secara bersama-sama. Jika beberapa jenis produk gabungan atau produk sampingan yang berbeda dihasilkan dari faktor biaya yang sama maka akan timbul biaya gabungan”.

Biaya gabungan terjadi sebelum titik pemisahan, dimana setelah pemisahan dari proses yang sama akan muncul produk-produk yang dapat dibedakan satu sama lainnya.

Ciri utama dari biaya gabungan adalah adanya fakta bahwa biaya dari beberapa produk yang berbeda dikeluarkan dalam jumlah bulat dan utuh untuk produk-produk tersebut, bukan dalam jumlah biaya tersendiri untuk masing-masing produk. Jumlah biaya produksi untuk berbagai macam produk mencakup biaya gabungan ditambah biaya tersendiri untuk setiap jenis produk.
Biaya tersendiri ini dapat diidentifikasikan pada masing-masing produk dan umumnya tidak memerlukan alokasi. Namun biaya produksi gabungan memerlukan alokasi kesetiap jenis produk.

E.       ALOKASI BIAYA GABUNGAN

Masalah akuntansi produk gabungan adalah penentuan proposi total biaya produksi (yang dikeluarkan sejak bahan baku diolah sampai dengan saat produk-produk dipisahkan identitasnya) yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk gabungan. Biaya pada dasarnya ada yang dapat dipisahkan dan tidak dapat dipisahkan. Biaya yang dapat dipisahkan dengan mudah ditelusuri dan tidak menimbulkan masalah khusus. Sedangkan biaya yang tidak dapat dipisahkan  harus dialokasikan pada berbagai produk untuk alasan tertentu. Tujuan dari alokasi biaya gabungan adalah untuk menentukan cara yang paling tepat untuk mengalokasikan biaya yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.

Menurut  Charles T Horngren Alokasi Biaya adalah
“Pembebanan kembali suatu biaya atau sekelompok biaya kepada suatu obyek biaya atau lebih”.

Menurut Mulyadi Alokasi Biaya adalah :
“Pembagian biaya tidak langsung kepada berbagai obyek informasi atas suatu dasar alokasi yang lebih bersifat sembarang”.
Dari berbagai pendapat diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud alokasi biaya adalah pembebanan satu biaya atau lebih yang tidak dapat dipisahkan kepada suatu obyek biaya atau lebih untuk alasan tertentu.

Biaya gabungan dapat dialokasikan kepada tiap-tiap produk gabungan dengan menggunakan salah satu dari empat metode berikut ini :
1.        Metode Biaya Rata-rata Satuan atau Biaya Per Unit Rata-rata
Metode ini berupaya mendistribusikan total biaya gabungan keberbagai produk atas dasar biaya per unit rata-rata. Angka ini diperoleh dengan membagi jumlah biaya produk gabungan dengan jumlah unit yang diproduksi. Jika semua unit yang diproduksi diukur dalam satuan unit yang sama dan tidak banyak berbeda, maka metode ini dapat diterapkan tanpa perlu ragu-ragu. Bila unit yang diproduksi tidak dapat diukur dalam satuan unit yang sama dan tidak banyak berbeda, maka metode ini sebaiknya jangan digunakan.


Metode biaya rata-rata satuan memiliki sifat-sifat :
a.    Merupakan metode yang paling mudah untuk dipakai mengalokasikan biaya gabungan pada setiap produk utama.
b.    Merupakan metode yang kasar karena tidak memperhitungkan faktor-faktor lain, misalnya berat produk, volume atau ukuran produk, sulitnya pembuatan produk, lamanya waktu pengolahan, keahlian tenaga kerja, jumlah bahan yang dikonsumsi dan sebagainya.
c.    Laporan keuangan yang dihasilkan tidak berhubungan dengan kemampuan setiap produk dalam menghasilkan laba.

Rumus :
Biaya Per Unit =
Alokasi Biaya Gabungan =     Biaya per unit  x Jumlah unit dari tiap produk yang
dihasilkan

2.        Metode Rata-rata Tertimbang
Metode ini mengalokasikan biaya gabungan berdasarkan kuantitas produksi dengan cara mengalikan kuantitas produksi dengan angka penimbang dan hasilnya baru dipakai sebagai dasar alokasi. Angka penimbang ini dapat mencerminkan berbagai jumlah waktu yang diperlukan untuk memproses unit yaitu tingkat kesulitan prosedur pemrosesan, jumlah bahan dan tingkat yang digunakan atau faktor lain yang menurut pertimbangan manajemen adalah penting. Contoh dari angka penimbang adalah jumlah unit, kilogram atau ukuran fisik lainnya.



Metode rata-rata tertimbang memiliki sifat-sifat :
a.    Dapat membebankan biaya gabungan dengan relatif adil dan teliti apabila dalam memilih penimbang benar-benar mencerminkan perbandingan biaya yang dinikmati oleh setiap macam produk.
b.    Metode ini sulit dipakai karena menentukan faktor penimbang agar teliti dan adil, dimana kemungkinan dipertimbangkan berdasarkan kombinasi berbagai faktor sulit diperhitungkan.
c.    Apabila faktor penimbang sifatnya teliti dan adil dapat menggambarkan kemampuan setiap macam produk dalam menghasilkan laba.

Rumus :                                                                        
Alokasi Buaya Gabunagan = 

Keterangan :
Total unit rata-rata tertimbang setiap produk = Unit yang diproduksi untuk tiap
produk x Nilai penimbang
Total unit rata-rata tertimbang semua produk = Jumlah total unit rata-rata
tertimbang semua produk

3.        Metode Satuan Kuantitas atau Unit Fisik
Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total nilai biaya gabungan ke berbagai produk atas dasar.

  
Rumus :
Alokasi Buaya Gabunagan = 
Keterangan :
Total unit semua produk = jumlah semua unit yang diproduksi

4.        Metode Nilai Jual atau Nilai Pasar
Pemikiran metode ini adalah bahwa harga pasar mencerminkan besarnya biaya yang diserap oleh setiap macam produk utama. Dengan kata lain, harga jual suatu produk merupakan perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut, anggapannya adalah bahwa suatu produk dijual lebih mahal daripada produk yang lain karena biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya lebih banyak.
Metode nilai pasar memiliki sifat-sifat :
a.    Apabila harga jual mencerminkan biaya yang diserap oleh produk utama, maka metode ini tepat, mudah dan praktis untuk dipakai.
b.    Metode ini menghasilakan persentase laba kotor setiap macam produk yang besarnya sama.
c.    Biaya gabungan umumnya tidak berhubungan langsung dengan harga jual.
d.   Harga jual seringkali dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya biaya yang diserap saja tetapi juga permintaan dan penawaran, keputusan pemerintah, persaingan dan sebagainya, jadi bersifat komplek.
  

Rumus :
Alokasi Biaya Gabungan = 

Keterangan :
Total nilai pasar tiap produk       =  Unit yang diproduksi untuk tiap produk x
Nilai pasar per unit untuk tiap produk
Total nilai pasar semua produk  =  Jumlah semua total nilai pasar untuk tiap
produk
                               
F.       KERANGKA PEMIKIRAN
Pertama-tama penulis membaca teori tentang biaya gabungan, alokasi biaya gabungan dan harga pokok produksi. Dalam mengolah bahan baku menjadi barang jadi PT. Prima Jaya melakukan beberapa tahapan dalam proses produksi yaitu : pemotongan (cutting), pencetakan (pressing), pembubutan (cnc) dan pengelasan (welding).
Diketahui oleh penulis, bahwa perusahaan ini memiliki masalah dalam menghitung alokasi biaya produk gabungan untuk menentukan harga pokok produksi untuk 5 produk sparepart yang dihasilkan. Dalam proses produksi perusahaan ini, biaya yang merupakan biaya gabungan adalah biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Dari masalah inilah, maka penulis tertarik untuk menulis skripsi tentang alokasi biaya produk gabunagn untuk 5 produk sparepart dengan tujuan untuk menentukan harga pokok untuk tiap-tiap produksi ini.

Setelah data-data yang diperlukan telah dikumpulkan oleh penulis, kemudian data tersebut dianalisis. Dalam menganalisis data tersebut terdapat dua hasil yang berbeda yaitu hasil analisis menurut perusahaan berdasarkan teori. Lalu penulis mengadakan perbandingan pada kedua hasil tersebut. Melalui proses perbandingan berdasarkan teori, maka perhitungan yang dihasilkan dapat menjadi alternatif  bagi perusahaan dalam menentukan metode alokasi biaya produk gabungan dalam perhitungan harga pokok produksi untuk tiap produk yang dihasilkan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar