BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Biaya
Terdapat berbagai macam pengertian atau defenisi biaya, yang
masing masing berbeda sehingga sering terjadi perbedaan persepsi, maka dari itu
tidak mudah untuk mendefenisikan istilah biaya tanpa menimbulkan keragu-raguan
akan kebenaran maksudnya.
Menurut R A
Supriyono :
“Biaya
adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh
penghasilan dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan”.
Menurut Mulyadi :
“Biaya adalah pengorbanan sumber
ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang
kemungkinan terjadi untuk tujuan tertentu”.
Dari
pendapat diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan biaya
adalah suatu pengorbanan yang dapat diukur dalam satuan moneter, baik yang
telah terjadi ataupun yang akan terjadi, untuk mencapai tujuan tertentu dan
dibebankan pada produk atau jasa perusahaan.
Seringkali
orang menganggap istilah biaya sama dengan beban, walau pada dasarnya adalah
berbeda.
Menurut Charles T Horngren :
“Biaya
digunakan untuk menunjukkan suatu harta (biaya barang persediaan) dan untuk
menunjukkan suatu pengeluaran (biaya atau harga pokok penjualan). Sedangkan
beban menunjukkan semua biaya yang dikurangi dari penerimaan atau pendapatan
dalam suatu periode tertentu”.
Menurut Don R
Hansen dan Maryanne Mowen :
“Biaya
adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang
atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau dimasa yang akan
datang bagi organisasi. Sedangkan beban adalah biaya yang telah digunakan untuk
menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan kadaluarsa. Biaya yang
kadaluarsa ini disebut beban”.
Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya masih dapat memberikan manfaat
dimasa yang akan datang dan merupakan biaya yang belum digunakan (unexpired
cost). Sedangkan beban adalah biaya yang telah digunakan (expired cost)
dan sudah tidak dapat memberikan manfaat lagi di masa yang akan datang.
B. Klasifikasi
Biaya
Pengelompokkan
biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen
dalam mencapai tujuannya.
Pengelompokkan
didasarkan pada :
1.
Hubungan Antara Biaya dengan Produksi
Dalam perusahaan pabrikasi, biaya
operasi total terdiri dari :
a. Biaya
pabrikasi atau sering juga disebut biaya produksi atau biaya pabrik (factory
cost) adalah jumlah dari tiga unsur biaya yaitu biaya bahan langsung,
tenaga kerja langsung dan overhead
pabrik yang dikeluarkan dalam proses produksi.
§ Bahan
langsung (direct materials) adalah semua bahan yang membentuk bagian
integral dari barang jadi dan dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi biaya
produk. Pertimbangan utama dalam mengelompokkan bahan kedalam bahan langsung
adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi
barang jadi.
§ Tenaga
kerja langsung (direct labours) adalah karyawan yang dikerahkan untuk
mengubah bahan langsung menjadi barang jadi.
§ Overhead pabrik (factory overhead)
didefenisikan sebagai biaya dari bahan tidak langsung, pekerja langsung,
pekerja tidak langsung dan semua biaya pabrikasi lainnya yang tidak dapat
dibebankan langsung pada produk tertentu.
b. Biaya
non produksi / Beban komersial, dibagi kedalam 3 kelompok besar :
§ Beban
pemasaran (distribusi dan penjualan)
Beban pemasaran dimulai dari saat biaya pabrik berakhir yaitu
pada saat proses pabrikasi diselesikan dan barang-barang sudah dalam kondisi
siap untuk dijual. Beban ini meliputi beban penjualan dan beban pengiriman.
§ Beban
Administrasi
Beban administarsi meliputi beban yang
dikeluarkan dalam mengatur dan mengendalikan organisasi.
§
Biaya Keuangan
Adalah biaya yang berkaitan dengan fungsi
penyediaan dana misalnya : biaya administrasi dan biaya bunga.
2.
Hubungan Antara Biaya
dengan Volume Produksi
Beberapa
jenis biaya bervariasi langsung dengan perubahan volume produksi, sedangkan
biaya lainnya relatif tidak berubah (fixed), terdiri dari :
a. Biaya Variabel
Dengan ciri-ciri yaitu :
§ Perubahan jumlah total dalam proposi
yang sama dengan perubahan volume.
§ Biaya per unit relatif konstan
meskipun volume berubah dalam rentang yang relevan.
§ Dapat dibebankan kepada departemen
operasi dengan cukup mudah dan tepat.
§ Dapat dikendalikan oleh seorang
penyelia operasi. Biaya yang mempunyai karakteristik ini umumnya meliputi bahan
langsung dan pekerja langsung.
b. Biaya Tetap
Dengan ciri-ciri yaitu :
§ Jumlah keseluruhanyang tetap dalam
rentang keluaran yang relevan.
§ Penurunan biaya perunit bila volume
bertambah dalam rentang yang relevan.
§ Dapat dibebankan kepada
departemen-departemen berdasarkan keputusan manajemen atau menurut metode
alokasi biaya.
§ Tanggung jawab pengendalian lebih
banyak dipikul oleh manajemen eksekutif daripada oleh penyelia operasi.
c. Biaya Semi Variabel
Biaya ini mencakup suatu jumlah yang
sebagian tetap dalam rentang keluaran yang relevan dan bagian lainnya
bervariasi sebanding dengan perubahan jumlah keluaran.
3.
Hubungan Antara Biaya
dengan Departemen Pabrikasi
Yang termasuk biaya dalam
hubungannya dengan departemen pabrikasi adalah :
a.
Departemen
Produksi dan Jasa
Dalam departemen produksi, operasi
secara manual ataupun dengan mesin, seperti membentuk dan merakit dilaksanakan
langsung terhadap produk atau bagian-bagiannya. Dalam departemen jasa meskipun
tidak terlibat langsung dalam proses produksi namun biayanya merupakan bagian
dari total overhead pabrik dan karena
itu harus dimasukkan dalam biaya produk.
b.
Beban
Langsung dan Tidak Langsung Departemen
Jika
beban berasal dari suatu departemen dapat segera diidentifikasi terhadap
departemen tersebut, maka beban itu disebut sebagai beban departemen langsung.
Sedangkan jika beban dipikul bersama oleh beberapa departemen yang mengambil
manfaat dari terjadinya beban tersebut maka beban tersebut dinamakan biaya
tidak langsung.
c.
Biaya
Bersama dan Biaya Gabungan
Biaya
bersama yaitu biaya yang berasal dari penggunaan fasilitas atau jasa oleh dua
operasi atau lebih. Biaya bersama pada umumnya timbul dalam organisasi yang
mempunyai banyak departemen. Sedangkan biaya gabungan yaitu biaya yang terjadi
bila proses produksi pasti akan menghasilkan lebih dari satu jenis
produk.
Biaya gabungan hanya dapat dialokasikan pada produk gabungan melalui
pertimbangan praktis.
4.
Hubungan Antara Biaya
dengan Periode Akuntansi
Yang termasuk biaya dalam
hubungannya dengan periode akuntansi yaitu :
a. Belanja barang modal
Belanja barang modal juga disebut
sebagai pengeluaran modal yang dimaksudkan untuk menghasilkan manfaat dalam
periode-periode mendatang dan dicatat sebagai aktiva. Namun pada akhirnya
belanja barang modal yang dianggap sebagai aktiva tadi akan masuk dalam arus
biaya bila digunakan atau habis masa manfaatnya.
b. Pengeluaran pendapatan
Pengeluaran pendapatan
memberikan manfaat pada periode berjalan dan dicatat sebagai beban.
C. HARGA POKOK PRODUKSI
Dalam
hubungannya dengan biaya-biaya untuk memproduksi suatu barang atau jasa, biaya
yang telah dikorbankan untuk memproduksi barang atau jasa disebut harga pokok
produksi.
Menurut R A Supriyono :
“Harga
perolehan atau harga pokok adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang
dalam bentuk kas yang dibayarkan, nilai aktiva lainnya yang diserahkan /
dikorbankan nilai jasa yang diserahkan, utang yang timbul, tambahan modal dalam
rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan, baik pada masa
lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang akan datang
(harga perolehan yang akan terjadi)”.
Aktiva
atau jasa yang diserahkan dalam proses produksi (yang meliputi bahan baku
langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik) membentuk harga pokok produksi.
Menurut Charles T
Horngren dan George Foster :
“Harga pokok
produksi adalah biaya yang dialokasikan ketersediaan pada saat terjadi. Pada
gilirannya, biaya yang dimasukkan dalam persediaan ini menjadi beban sebagai
harga pokok penjualan hanya jika jumlah unit yang terdapat dalam persediaan
terjual dan ini bisa terjadi dalam suatu periode setelah periode
memproduksinya”.
Ada tiga unsur utama
menurut Charles T Horngren dan George Foster dalam biaya produk yang dihasilkan
:
1. Biaya Bahan Langsung
Biaya
pembelian (perolehan) semua bahan yang diidentifikasikan sebagai bagian dari
barang jadi dapat ditelusuri ke barang jadi dengan cara yang ekonomis. Bahan
langsung sering tidak mencakup unsur-unsur yang tidak signifikan tampaknya,
tidak sebanding dengan nilai atau manfaat untuk mendapatkan harga pokok produk
yang lebih akurat. Unsur-unsur seperti itu disebut perlengkapan atau bahan
tidak langsung dan digolongkan sebagai bagian biaya produksi tidak langsung.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Upah
semua tenaga kerja dapat diidentifikasi dengan cara yang mungkin secara
ekonomis terhadap produk barang jadi contohnya adalah tenaga operator mesin.
Tenaga kerja tidak langsung mencakup semua upah tenaga kerja pabrik selain
tenaga kerja langsung. Inilah biaya yang tidak mungkin atau tidak praktis untuk
ditelusuri kepada produk.
3. Biaya Produk Tidak Langsung
Semua biaya yang bukan
bahan langsung dan tenaga kerja langsung yang berkaitan dengan proses produksi.
Istilah lainnya untuk kategori ini adalah biaya overhead pabrikasi dan beban pabrikasi.
Jadi dari defenisi diatas
dalam perusahaan manufaktur, biaya suatu produk biasanya terdiri dari biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang disebut biaya produksi atau biaya pabrikasi.
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku
menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
D. JOINT PRODUCT DAN JOINT COST
1.
Pengertian Joint
Product
Hubungan antara produk
yang satu dengan produk yang lain dalam perusahaan (pabrik) yang menghasilkan beberapa
macam produk, dapat digolongkan dalam :
a. Produk Common (Commont Product)
Yaitu
beberapa macam produk yang dihasilkan bersama-sama dengan menggunakan
fasilitas yang sama akan tetapi asal dari bahan baku dan tenaga kerja langsung
yang dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk.
b. Produk Bersama (Joint Product)
Yaitu beberapa macam produk yang
dihasilkan bersama-sama dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan
baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukan tersebut tidak
dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu.
c. Co-Product
Yaitu beberapa macam produk yang
dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak dari proses pengolahan yang sama
atau tidak dari bahan baku yang sama.
d. Produk Utama
Yaitu produk yang dihasilkan
merupakan tujuan pokok operasi perusahaan dan umumnya kuantitas dan nilainya
relatif lebih besar. Sedangkan produk sampingnya adalah produk yang bukan
tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam
proses pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil
dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.
Menurut Matz, Usry dan Hammer produk gabungan (joint
product) didefenisikan sebagai berikut :
“Produk gabungan diproduksi secara
serentak melalui proses bersama (common
process) atau rangkaian proses, dimana masing-masing produknya memiliki
nilai lebih tinggi daripada nominal dalam bentuk barang jadi”.
Dalam defenisi ini
terdapat penekanan pada pengertian bahwa dalam proses pabrikasi itu dihasilkan
produk-produk dalam suatu perbandingan kuantitatif tertentu. Kenaikan dalam
hasil produk tertentu akan mengakibatkan kenaikan dalam jumlah produk lainnya,
demikian pula sebaliknya, namun tidak selalu harus ada dalam proporsi yang
sama.
2.
Pengertian Joint
Cost
Bagi banyak perusahaan
industri, kalkulasi biaya untuk produk sampingan dan produk gabungan merupakan
masalah yang sulit dan sering berkembang menjadi rumit.
Menurut Matz, Usry dan Hammer, Biaya
Gabungan (joint cost) didefenisikan sebagai berikut :
“Biaya yang timbul karena
pemrosesan atau pabrikasi beberapa jenis barang secara bersama-sama. Jika
beberapa jenis produk gabungan atau produk sampingan yang berbeda dihasilkan
dari faktor biaya yang sama maka akan timbul biaya gabungan”.
Biaya gabungan terjadi
sebelum titik pemisahan, dimana setelah pemisahan dari proses yang sama akan
muncul produk-produk yang dapat dibedakan satu sama lainnya.
Ciri utama dari biaya
gabungan adalah adanya fakta bahwa biaya dari beberapa produk yang berbeda
dikeluarkan dalam jumlah bulat dan utuh untuk produk-produk tersebut, bukan
dalam jumlah biaya tersendiri untuk masing-masing produk. Jumlah biaya produksi
untuk berbagai macam produk mencakup biaya gabungan ditambah biaya tersendiri
untuk setiap jenis produk.
Biaya tersendiri ini
dapat diidentifikasikan pada masing-masing produk dan umumnya tidak memerlukan
alokasi. Namun biaya produksi gabungan memerlukan alokasi kesetiap jenis
produk.
E. ALOKASI BIAYA GABUNGAN
Masalah akuntansi produk
gabungan adalah penentuan proposi total biaya produksi (yang dikeluarkan sejak
bahan baku diolah sampai dengan saat produk-produk dipisahkan identitasnya)
yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk gabungan. Biaya pada dasarnya
ada yang dapat dipisahkan dan tidak dapat dipisahkan. Biaya yang dapat
dipisahkan dengan mudah ditelusuri dan tidak menimbulkan masalah khusus.
Sedangkan biaya yang tidak dapat dipisahkan
harus dialokasikan pada berbagai produk untuk alasan tertentu. Tujuan
dari alokasi biaya gabungan adalah untuk menentukan cara yang paling tepat
untuk mengalokasikan biaya yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.
Menurut Charles T Horngren Alokasi Biaya adalah
“Pembebanan kembali suatu biaya atau
sekelompok biaya kepada suatu obyek biaya atau lebih”.
Menurut Mulyadi Alokasi Biaya adalah :
“Pembagian
biaya tidak langsung kepada berbagai obyek informasi atas suatu dasar alokasi
yang lebih bersifat sembarang”.
Dari
berbagai pendapat diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa yang dimaksud
alokasi biaya adalah pembebanan satu biaya atau lebih yang tidak dapat
dipisahkan kepada suatu obyek biaya atau lebih untuk alasan tertentu.
Biaya gabungan dapat
dialokasikan kepada tiap-tiap produk gabungan dengan menggunakan salah satu
dari empat metode berikut ini :
1.
Metode Biaya Rata-rata
Satuan atau Biaya Per Unit Rata-rata
Metode ini berupaya
mendistribusikan total biaya gabungan keberbagai produk atas dasar biaya per
unit rata-rata. Angka ini diperoleh dengan membagi jumlah biaya produk gabungan
dengan jumlah unit yang diproduksi. Jika semua unit yang diproduksi diukur
dalam satuan unit yang sama dan tidak banyak berbeda, maka metode ini dapat
diterapkan tanpa perlu ragu-ragu. Bila unit yang diproduksi tidak dapat diukur
dalam satuan unit yang sama dan tidak banyak berbeda, maka metode ini sebaiknya
jangan digunakan.
Metode biaya rata-rata
satuan memiliki sifat-sifat :
a. Merupakan metode yang paling mudah
untuk dipakai mengalokasikan biaya gabungan pada setiap produk utama.
b. Merupakan metode yang kasar karena
tidak memperhitungkan faktor-faktor lain, misalnya berat produk, volume atau
ukuran produk, sulitnya pembuatan produk, lamanya waktu pengolahan, keahlian
tenaga kerja, jumlah bahan yang dikonsumsi dan sebagainya.
c. Laporan keuangan yang dihasilkan
tidak berhubungan dengan kemampuan setiap produk dalam menghasilkan laba.
Rumus
:
Biaya Per Unit = 
Alokasi
Biaya Gabungan = Biaya per unit x
Jumlah unit dari tiap produk yang
dihasilkan
2.
Metode Rata-rata
Tertimbang
Metode ini mengalokasikan
biaya gabungan berdasarkan kuantitas produksi dengan cara mengalikan kuantitas
produksi dengan angka penimbang dan hasilnya baru dipakai sebagai dasar
alokasi. Angka penimbang ini dapat mencerminkan berbagai jumlah waktu yang
diperlukan untuk memproses unit yaitu tingkat kesulitan prosedur pemrosesan,
jumlah bahan dan tingkat yang digunakan atau faktor lain yang menurut
pertimbangan manajemen adalah penting. Contoh dari angka penimbang adalah
jumlah unit, kilogram atau ukuran fisik lainnya.
Metode rata-rata
tertimbang memiliki sifat-sifat :
a. Dapat membebankan biaya gabungan
dengan relatif adil dan teliti apabila dalam memilih penimbang benar-benar
mencerminkan perbandingan biaya yang dinikmati oleh setiap macam produk.
b. Metode ini sulit dipakai karena
menentukan faktor penimbang agar teliti dan adil, dimana kemungkinan
dipertimbangkan berdasarkan kombinasi berbagai faktor sulit diperhitungkan.
c. Apabila faktor penimbang sifatnya
teliti dan adil dapat menggambarkan kemampuan setiap macam produk dalam
menghasilkan laba.
Rumus
:
Alokasi
Buaya Gabunagan =
Keterangan :
Total unit rata-rata
tertimbang setiap produk = Unit yang diproduksi untuk tiap
produk x Nilai penimbang
Total unit rata-rata
tertimbang semua produk = Jumlah total unit rata-rata
tertimbang semua produk
3.
Metode Satuan Kuantitas
atau Unit Fisik
Metode ini berupaya untuk
mendistribusikan total nilai biaya gabungan ke berbagai produk atas dasar.
Rumus :
Alokasi
Buaya Gabunagan =
Keterangan :
Total unit semua produk =
jumlah semua unit yang diproduksi
4.
Metode Nilai Jual atau
Nilai Pasar
Pemikiran metode ini
adalah bahwa harga pasar mencerminkan besarnya biaya yang diserap oleh setiap
macam produk utama. Dengan kata lain, harga jual suatu produk merupakan
perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut,
anggapannya adalah bahwa suatu produk dijual lebih mahal daripada produk yang
lain karena biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya lebih banyak.
Metode nilai pasar
memiliki sifat-sifat :
a. Apabila harga jual mencerminkan biaya
yang diserap oleh produk utama, maka metode ini tepat, mudah dan praktis untuk
dipakai.
b. Metode ini menghasilakan persentase
laba kotor setiap macam produk yang besarnya sama.
c. Biaya gabungan umumnya tidak
berhubungan langsung dengan harga jual.
d. Harga jual seringkali dipengaruhi
banyak faktor, tidak hanya biaya yang diserap saja tetapi juga permintaan dan
penawaran, keputusan pemerintah, persaingan dan sebagainya, jadi bersifat
komplek.
Rumus
:
Alokasi
Biaya Gabungan =
Keterangan
:
Total
nilai pasar tiap produk =
Unit yang diproduksi untuk tiap produk x
Nilai pasar per unit untuk tiap
produk
Total
nilai pasar semua produk = Jumlah
semua total nilai pasar untuk tiap
produk
F.
KERANGKA PEMIKIRAN
Pertama-tama penulis
membaca teori tentang biaya gabungan, alokasi biaya gabungan dan harga pokok
produksi. Dalam mengolah bahan baku menjadi barang jadi PT. Prima Jaya
melakukan beberapa tahapan dalam proses produksi yaitu : pemotongan (cutting),
pencetakan (pressing), pembubutan (cnc) dan pengelasan (welding).
Diketahui oleh penulis,
bahwa perusahaan ini memiliki masalah dalam menghitung alokasi biaya produk
gabungan untuk menentukan harga pokok produksi untuk 5 produk sparepart yang dihasilkan. Dalam proses
produksi perusahaan ini, biaya yang merupakan biaya gabungan adalah biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead
pabrik. Dari masalah inilah, maka penulis tertarik untuk menulis skripsi tentang
alokasi biaya produk gabunagn untuk 5 produk
sparepart dengan tujuan untuk menentukan harga pokok untuk tiap-tiap
produksi ini.
Setelah data-data yang
diperlukan telah dikumpulkan oleh penulis, kemudian data tersebut dianalisis.
Dalam menganalisis data tersebut terdapat dua hasil yang berbeda yaitu hasil
analisis menurut perusahaan berdasarkan teori. Lalu penulis mengadakan
perbandingan pada kedua hasil tersebut. Melalui proses perbandingan berdasarkan
teori, maka perhitungan yang dihasilkan dapat menjadi alternatif bagi perusahaan dalam menentukan metode
alokasi biaya produk gabungan dalam perhitungan harga pokok produksi untuk tiap
produk yang dihasilkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar